Sabtu, 24 Oktober 2009
tanggung jawab (lagi)
Awal masalahnya cuma satu hal simpel sih... Gue nabrak mobil orang.Jadi ceritanya, gue baru beres kuliah dan mau jemput adik gue di sekolahnya. Berhubung jam-jam itu jam-jamnya bubaran kelas, jalan jadi penuh sama mobil-mobil yang mau anter jemput.
Di salah satu perempatan deket sekolah, macett banget, penuh, dan mobil-mobil tu udah kaya semut yang baris pelan-pelan. Nah, di perempatan itu gue mau lurus, tapi mobil-mobil di seberang sana tu pada ngotot mau belok kanan, jadi otomatis mobil gue kehalangan terus. Padahal seharusnya mereka masih belum boleh belok kanan lho, kan giliran gue!
Setelah gue nunggu beberapa lama, akhirnya ada mobil baik hati yang ngasih gue jalan lurus. Nah, di depan mobil baik hati itu ada mobil *sebut aja* X yang udah belok kanan. Setelah mobil X itu lewat, gue pun lurus. Tapi berhubung gue yang baru pulang kuliah itu lagi capek dan ngantuk dan nggak konsen... DUAKKK! Bemper mobil X itu ketabrak! Kaca jendela kursi penumpangnya terbuka dan tampaklah muka seorang wanita 30an ngasih gue isyarat untuk ke pinggir.
Nah, dia kan dari arah berlawanan gue belok ke kanan, sedangkan gue lurus, dan setelah ngasih isyarat supaya gue ke pinggir mobilnya malah menjauh. Lho?? Ya sudahlah, gue pun melaju terus di jalanan yang macet.
"Mbak, bisa tolong ke pinggir sebentar?"
Oh-oh, I'm in trouble.
Di jalanan yang super penuh itu, gue susah payah nyari celah buat ke pinggir. Wanita itu udah nunggu di pinggir jalan. Gue pun turun dari mobil. Panik dan takut nyampur jadi satu *nabrak pertama kali siih*
Potongan-potongan kalimat yang gue inget dari pembicaraan kami:
"... maaf... iya, bemper saya sampai coplok sebelah... mau lihat...?"
Dan benar apa yang dia bilang: bemper belakang kirinya coplok *jauh banget sama keadaan mobil gue yang sekuat tank baja, tabrakan tadi nggak berbekas*
Wanita itu cukup baik dan sopan. Meskipun kelihatan gue ini masih anak kuliahan, dia nggak marah-marah, maki-maki atau sejenisnya. Dia cuma minta no hp gue karena katanya "takut ada apa-apa".
Beberapa hari kemudian, dia berusaha menghubungi gue, tapi nggak gue gubris. Gue tahu ini jahat, gue juga yang salah, tapi gue terpaksa. Gue lagi nggak punya uang banget. Gue takut.
Singkat cerita, akhirnya dia sms gue, inti isinya dia bilang nggak apa-apa kalau gue nggak mau tanggung jawab, biar nanti Tuhan yang bales perbuatan gue. Dia berharap lain kali gue bisa lebih tanggung jawab.
Gue lega, karena gue anggap masalah itu selesai dengan cara kekeluargaan *maksa banget ya?*
Tapi yang namanya karma itu memang ada.
Sekitar dua minggu sejak kejadian itu, gue kena balasannya: STNK gue ilang dengan sangat mengenaskan *saking mengenaskannya lebih baik nggak usah dibahas lebih lanjut di sini*
Damn! Seminggu penuh gue nggak bisa nyetir!
Moral of the story:
1. be responsible
2. treat others the way you want to be treated *nggak mau kan mobil lo ditabrak orang trus orangnya kabur begitu aja?*
3. carma does exist, so... be careful
P.S. Mbak yang mobilnya saya tabrak, saya bener-bener minta maaf ya... Lagipula seperti kata Mbak, saya udah nerima balasannya. Akhirnya saya mengeluarkan biaya cukup besar juga untuk membuat STNK baru :/
Sabtu, 17 Oktober 2009
if i were a fashion stylist...
Kamis, 08 Oktober 2009
wishin a love story's dat simple =/
(hearts the singer, too =)
We were both young, when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts-
I’m standing there, on a balcony in summer air.
I see the lights; see the party, the ball gowns.
I see you make your way through the crowd-
You say hello, little did I know…
That you were Romeo, you were throwing pebbles-
And my daddy said “stay away from Juliet”-
And I was crying on the staircase-
begging you please don’t go…
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess,
It’s a love story, baby, just say yes.
So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet, because we’re dead if they knew-
So close your eyes… escape this town for a little while.
Oh, Oh.
Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said “stay away from Juliet” -
but you were everything to me-
I was begging you, please don’t go-
And I said…
Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess.
It’s a love story, baby, just say yes-
Romeo save me, they’re trying to tell me how to feel.
This love is difficult, but it’s real.
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess.
It’s a love story, baby, just say yes.
Oh, Oh.
I got tired of waiting.
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading-
When I met you on the outskirts of town.
And I said…
Romeo save me, I’ve been feeling so alone.
I keep waiting, for you but you never come.
Is this in my head, I don’t know what to think-
He knelt to the ground and pulled out a ring and said…
Marry me Juliet, you’ll never have to be alone.
I love you, and that’s all I really know.
I talked to your dad — go pick out a white dress
It’s a love story, baby just say… yes.
Oh, Oh, Oh, Oh, Oh.
We were both young when I first saw you.
Minggu, 04 Oktober 2009
beda.
kamu si sawo matang
matamu besar dan indah
mataku kecil dan berbinar-binar
saat orang lain melihat kita
mereka pasti tahu kita berbeda
perbedaan yang bukan merupakan pilihan
perbedaan yang tak mampu diubahkan
perbedaan yang seringkali memicu pembedaan
perbedaan yang seringkali menyebabkan perselisihan
sebegitu buruknyakah sebuah perbedaan?
padahal, apa salahnya kita berbeda?
bukankah kita semua bernaung di spesies yang sama?
bukankah perbedaan itu tidak menghapus kesetaraan
manusia di depan Yang Kuasa?
kalau perbedaan bisa dijadikan alasan untuk saling membenci
mengapa perbedaan yang sama tidak bisa dijadikan alasan
untuk saling melengkapi?
untuk saling mencintai?
Kamis, 01 Oktober 2009
my car and desperation
Capee banget, tadi jemput ade gue yang kecil di sekolahnya, nungguin sejam gara-gara ketololan, emmm, kekurangpintaran objek penderita :( *sekarang gue ngerti gimana capenya, keselnya papa jemput gue di sekolah, dulu gue juga suka bikin papa nunggu, tapi ga separah ade gue hari ini :)*
Ternyata nyetir itu capee!
Jadi inget, dulu jaman-jamannya gue masih belajar nyetir, gue PENGEN BANGET 'turun' ke jalan. Segera. Muter-muter sana-sini. Bisa main sesuka hati. Terlepas dari kenyataan bahwa sekarang gue tetap nggak bisa main sesuka hati meskipun udah boleh nyetir sendiri ke kampus, waktu itu gue belajar satu hal:
When you're desperate, you screw it up!
Ya, waktu itu gue sangat sangat pengen bebas, pengen bisa nyetir ke sana sini. Kata mama, gue nggak boleh gitu, gue harus sabar belajar mobil *waktu itu baru sekitar dua bulanan gue belajar*
Tapi gue benar-benar nggak sabar. Setiap hari, di halaman rumah yang cukup luas, gue latihan maju mundurin mobil. Gue juga latihan ngelewatin gerbang depan. Gerbang depan di rumah gue terdiri dari pintu kiri dan pintu kanan. Biasanya kalau ada mobil mau masuk atau keluar, hanya gerbang kiri *dilihat dari dalam* yang dibuka. Lebarnya PAS banget untuk dilalui mobil sebesar Innova *gue sendiri belajar nyetir pake Taruna yang hanya sedikit lebih kecil, jadi muat juga*
Naah, gue minta ade gue (yang besar) untuk nemenin gue latihan. Hari itu, gue berencana latihan maju mundur ngelewatin gerbang depan. Rencananya, begitu udah lancar, gue mau tunjukin ke mama kalau gue udah bisa ngepas-ngepasin mobil dan *tentunya* udah layak turun ke jalan :)
Sebelumnya, gue belum pernah ngelewatin gerbang depan dengan cara yang sama seperti mobil-mobil lainnya - gue selalu buka pintu sebelah kiri dan kanan. Tapi hari itu, gue cuma buka yang sebelah kiri *latihan ngepaas :)*
Begitu maju, gue angkat kopling sambil menekan gas pelan-pelan... Pelaaan.. Pelaaan... Dan lolos! Tuh kan, gue udah bisa ngelewatin celah sempit :)
Berikutnya, gue latihan mundur. Pelaan-pelaaan... Setengah badan mobil udah lolos... Mundur lagi... Pelan-pelan... Ups, jalan mundur gue SEDIKIT terhalang pohon cemara di sebelah kiri. Sambil tetap mundur, pelan-pelan gue putar setirnya ke kanan, biar pantat mobilnya nggak kena pohon cemara. Pelan-pelan... Pelan-pelan... Ade gue, yang berdiri di dekat mobil, ikut bantuin mengarahkan.
BRAAAK!
Ban kiri mobil gue masuk got, akibatnya mobil gue jadi miring ke kiri. Gue coba ngegas sekuat mungkin, tapi sia-sia. Malah bagian kiri bemper depan gue menggesek tembok dengan bunyi ckiit ckiit memuakkan :(
Singkat cerita, mobil gue di'selamat'kan dengan dongkrak.
What is the moral of the story? Simple. Don't be too desperate. When I was sooo desperate to get my parents' permission to drive outside home by my own, my mind was too focused on that result so I can't fully concentrate when I LEARN how to drive WELL. All I wanted was to drive outta home and be FREE, FREE, FREE :/
Tapi begitu gue berhenti being desperate... Begitu gue memutuskan untuk belajar one step at a time... Begitu gue belajar menerima kenyataan bahwa orang tua gue memang belum bisa ngijinin gue nyetir keluar sesuka hati... I learned faster :))


